Matahari bersinar cerah di kampus Telkom University pagi itu. Di bawah naungan atap semi terbuka dan diapit pepohonan rindang, deretan bendera warna-warni berkibar, menandakan suasana yang meriah. Mahasiswa dan pengunjung berkerumun, sebagian mengenakan rompi kuning khas panitia, sebagian lagi sibuk mencoba permainan yang disiapkan di sepanjang jalur.
Tel-U Cup 2025 kali ini menghadirkan sesuatu yang istimewa — arena permainan tradisional. Bukan sekadar nostalgia, tapi juga ajang untuk mengenalkan kembali keseruan permainan masa kecil kepada generasi yang tumbuh di era serba digital.
Suara tawa dan sorak sorai terdengar di setiap sudut. Ada yang berjongkok serius menata congklak, ada yang melompat-lompat penuh semangat di permainan engklek, dan ada pula yang mengatur strategi di permainan ular tangga raksasa yang membentang di lantai.
Di balik suasana santai ini, tersimpan tujuan yang lebih dalam: mengingatkan bahwa kebersamaan tak selalu harus dibangun lewat layar gawai. Permainan tradisional bukan hanya tentang menang atau kalah, tetapi juga tentang interaksi, kerja sama, dan rasa saling menghargai.
Tel-U Cup 2025 membuktikan bahwa tradisi bisa hidup berdampingan dengan modernitas. Siapa pun yang melangkah ke area permainan ini akan pulang membawa senyum, sedikit peluh, dan banyak cerita.



