Di arena Tenis Meja TEL-U CUP 2025, bukan cuma kemampuan menyerang yang jadi sorotan, tapi juga daya tahan pemain menghadapi serangan demi serangan lawan. Dan di pertandingan ini, ada satu cerita: tentang bagaimana bertahan dari gempuran bola yang datang bertubi-tubi.
Awal Pertandingan: Tekanan Sejak Peluit Pertama
Begitu laga dimulai, lawan langsung melepaskan serve tajam diikuti smash keras ke sudut meja. Penonton berdecak kagum, tapi pemain yang jadi sorotan hari itu tetap tenang. Dengan refleks cepat, ia membalas setiap pukulan, memaksa reli panjang yang bikin semua mata terpaku.
Reli Panjang yang Memukau
Pukulan demi pukulan: Bola datang dari kiri, kanan, dekat net, hingga jauh ke belakang meja.
Blok sempurna: Beberapa kali smash lawan berhasil diblok dengan akurat, membuat bola memantul pelan tapi terarah.
Sorakan penonton: Setiap kali bola berhasil dikembalikan, sorakan penonton makin riuh. Ada yang sampai berdiri karena tegang.
Momen Penentu
Di poin kritis, lawan mencoba smash mematikan ke sisi kiri. Dengan langkah cepat dan insting tajam, sang pemain bertahan memotong bola dengan counter drive yang justru berbuah poin kemenangan. Penonton langsung bersorak — itu bukan cuma pertahanan, tapi serangan balasan yang elegan.
Lebih dari Sekadar Menang
Pertandingan ini mengajarkan bahwa di tenis meja, bertahan bukan berarti pasif. Justru pertahanan yang solid bisa menjadi senjata untuk membalikkan keadaan.
“Ku bertahan dari gempuran bolamu” bukan sekadar judul, tapi cerita nyata di lapangan GSG Telkom University hari itu.
Tenis Meja TEL-U CUP 2025 selalu menghadirkan drama di setiap reli. Dan di laga ini, bertahan jadi seni yang membawa kemenangan. Tahun depan, siapa yang akan menjadi tembok tak tertembus di lapangan?



