Education Innovation Research Technology

IEEE AGERS 2025: Hari Pertama Mengangkat Isu Pesisir Utara Jawa

0
Please log in or register to do it.

IEEE AGERS 2025 (Asia Pacific Geosciences, Electronics and Remote Sensing Technology) menjadi ruang temu penting bagi akademisi, peneliti, dan praktisi untuk membahas bagaimana teknologi geospasial—mulai dari peta dasar nasional, satelit, hingga kecerdasan buatan—dipakai untuk menjawab persoalan nyata: perubahan iklim, banjir rob, penurunan muka tanah, serta kebutuhan monitoring lingkungan yang makin presisi.

 

Indonesia Case Context dan Urgensi Monitoring Pesisir Utara Jawa

Salah satu materi yang paling “membumi” pada hari pertama adalah Indonesia Case Context (North Java Coast)—topik yang relevan karena wilayah pesisir utara Jawa berada di garis depan dampak gabungan antara perubahan iklim dan tekanan pembangunan.

 

Isu yang mengemuka dalam pemaparan ini terang dan terstruktur:

 

Coastal recession (kemunduran garis pantai) yang berdampak pada kota dan pertanian

 

Subsidence-driven flooding (banjir yang dipicu penurunan muka tanah/land subsidence)

 

Ecosystem degradation (degradasi ekosistem)

 

Peluang untuk integrated monitoring dan penerapan NBS (Nature-Based Solutions)

 

Yang menarik, slide memetakan “akar masalah” secara sistemik: bukan hanya badai dan pasang, tetapi juga hubungan sebab-akibat yang melibatkan sea level rise, storm surge / high wave / high tide, sampai land subsidence yang berakar pada kompaksi tanah dan faktor sosial-ekonomi seperti pertumbuhan penduduk, urban expansion, dan pembangunan infrastruktur.

 

Di sinilah remote sensing dan geosciences menjadi krusial: persoalan pesisir bukan sekadar “fenomena musiman”, melainkan rangkaian proses yang harus dipantau lintas waktu dan lintas data.

 

Remote sensing untuk iklim tropis: dari citra menjadi kebijakan

Pada sesi lain, terdapat penekanan pada aplikasi teknologi satelit dan remote sensing untuk memantau pola iklim dan sistem atmosfer di wilayah tropis. Pesannya jelas: kawasan tropis memerlukan model dan pendekatan yang tidak bisa sekadar menyalin praktik di lintang tinggi.

 

Remote sensing memungkinkan:

 

pemantauan awan dan hujan skala luas,

 

deteksi perubahan tutupan lahan,

 

anomali suhu permukaan,

 

hingga pengamatan parameter lingkungan yang relevan untuk mitigasi bencana.

 

Untuk konteks Indonesia, ini bukan wacana akademik semata: kualitas prediksi dan monitoring menentukan seberapa cepat daerah bisa merespons, seberapa tepat intervensi dilakukan, dan seberapa efisien anggaran dialokasikan.

 

“Basemaps of Indonesia”: fondasi yang sering dilupakan

Salah satu materi yang juga menonjol pada hari pertama adalah pembahasan Basemaps of Indonesia dan rujukan portal nasional: tanahair.indonesia.go.id.

 

Inti pesannya sederhana namun sangat penting: sebelum bicara analitik canggih, kita butuh fondasi referensi yang konsisten—topographic map, coastal area map, dan marine area map—sebagai reference system.

 

Di slide juga ditampilkan contoh lapisan peta topografi seperti:

 

coastline, hipsografi, hidrografi,

 

batas administrasi,

 

transportasi dan utilitas,

 

fasilitas publik,

 

hingga land cover.

 

 

Ini mengingatkan kita bahwa akurasi analisis remote sensing sangat dipengaruhi oleh kualitas dan konsistensi “peta dasar” yang dipakai untuk menambatkan interpretasi data.

 

Mengapa Ini Relevan untuk Mahasiswa dan Civitas Telkom University?

Bagi kampus teknologi seperti Telkom University, rangkaian diskusi IEEE AGERS 2025 memberi beberapa “benang merah” yang bisa diturunkan menjadi arah riset, tugas akhir, bahkan inovasi produk:

 

1) Tantangan Indonesia bersifat multidisiplin

Kasus pesisir utara Jawa menunjukkan satu hal: problem nyata selalu multidimensi. Dibutuhkan kolaborasi:

 

geospasial + data science,

 

kebijakan publik + teknologi,

 

monitoring + intervensi berbasis bukti.

 

2) AI bukan pengganti domain knowledge—tapi akseleratornya

AI bisa mempercepat ekstraksi pola, prediksi, dan pembuatan peta tematik. Namun validitas hasil tetap harus ditopang:

 

baseline data yang benar,

 

pemahaman proses fisik-lingkungan,

 

serta kontrol kualitas.

 

3) “Produk siap keputusan” adalah bahasa masa depan

Jika riset ingin berdampak, output perlu disajikan sebagai:

 

dashboard,

 

peta risiko,

 

alert system,

 

rekomendasi mitigasi,

bukan berhenti sebagai laporan teknis.

 

Dari Forum Ilmiah ke Dampak Nyata

Hari pertama IEEE AGERS 2025 menegaskan urgensi konteks Indonesia: pesisir utara Jawa, banjir rob, penurunan tanah, dan kebutuhan monitoring terpadu. Hari kedua membawa kita ke lompatan berikutnya: era AI yang mengubah cara kita memproses data bumi—dari interpretasi manual menuju sistem prediksi dan produk analitik siap pakai.

 

 

Untuk Telkom University, ini bukan sekadar catatan acara. Ini peta arah: bagaimana riset, pembelajaran, dan kolaborasi bisa menaut pada persoalan nyata Indonesia, dengan perangkat mutakhir yang sedang membentuk masa depan geosciences.

Keynote IEEE AGERS 2025 Optical Wireless Power Transmission untuk Objek Bergerak, Saat Daya Tak Lagi Jadi Batas Inovasi
Hari Kedua IEEE AGERS: Ketika Remote Sensing Masuk Era AI—“Think, Imagine, Create”

Reactions

0
0
0
0
0
0
Already reacted for this post.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

GIF

Secret Link